Sabtu, 25 Februari 2012

laporan praktikum kelembaban udara


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam kehidupan di bumi ini kelembaban udara merupakan salah satu unsur penting bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Kelembaban udara juga menentukan bagaimana makhluk tersebut dapat beradaptasi dengan kelembaban yang ada di lingkungannya.                                                                                            Dalam atmosfer senantiasa terdapat uap air. Kadar uap air dalam udara disebut kelembaban. Kadar ini selalu berubah-ubah tergantung pada temperatur udara setempat. Kelembaban udara adalah persentase kandungan uap air dalam udara. Kelembaban udara ditentukan  oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam udara. Total  massa uap air per satuan volume udara disebut sebagai kelembaban absolut. Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik. Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung, termasuk uap air, jika massa uap air tidak diikutkan, maka disebut sebagai massa udara kering.                                                                                        Di Indonesia, perhatian dan kerjasama antara para ahli klimatologi dengan ahli pertanian semakin meningkat terutama dalam rangka menunjang produksi tanaman pangan. Daya hasil beberapa tanaman pangan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Perbedaan ini disebabkan oleh pemakaian teknologi tinggi dan pengelolan yang baik. Penigkatan produksi tanaman pangan selain dengan panca usaha tani juga dilakukan dengan pemanfaatan iklim.                                                                        Dalam bidang pertanian kelembaban udara biasanya digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan perkembangan  tumbuhan budidaya. Dengan mengetahui kelembaban udara yang ada di lingkungan tempat yang akan di tanam tumbuhan, kita dapat menentukkan pemilihan jenis tanaman yang sesuai, misalnya tanaman bakau  yang ditanam pada daerah yang berkelembaban tinggi, bakau tersebut akan berkembang dan berproduktifitas dengan maksimal, sebaliknya jika bakau tersebut di tanam pada daerah yang mempunyai kelembaban yang rendah maka bakau tersebut tidak akan berproduktifitas dan berkembang secara maksimal.
Tujuan                                                                                                                       Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu bagaimana cara mengukur kelembaban udara serta alat-alat apa saja yang harus digunakan unutuk mengukur kelembaban udara tersebut.
           
















TINJAUAN PUSTAKA
Kelembapan udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. jumlah uap air dalam udara ini sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh atmosfer, yaitu  hanya kira-kira 2 % dari jumlah masa. Akan tetapi uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting ditinjau dari segi cuaca dan iklim.                                                                                                                 
Uap air adalah suatu gas, yang tidak dapat dilihat, yang merupakan salah satu bagian dari atmosfer. Kabut dan awan adalah titik air atau butir-butir air yang melayang-layang di udara. Kabut melayang-layang dekat permukaan tanah, sedangkan awan melayang-layang di angkasa. Banyaknya uap air yang di kandung oleh hawa tergantung pada temperatur. Makin tingggi temperatur makin banyak uap air yang dapat dikandung oleh hawa (Hardjodinomo, 1975).
Proses perubahan air menjadi uap air disebut penguapan (vaporisasi atau evaporasi). Molekul-molekul air yang mempunyai energi kinetik yang cukup untuk mengatasi gaya-gaya tarik yang cenderung untuk menahannya dalam badan air di proyeksikan melalui permukaan air. Oleh karena energi kinetik bertambah dan tegangan permukaan berkuranng ketika temperatur naik, maka laju pernguapan naik menurut temperatur. Hampir semua uap di atmosfer adalah hasil penguapan dari permukaan air (Linsley, 1989).                                               Kelembaban udara pada ketinggian lebih dati 2 meter dari permukaan menunjukkan perbedaan yang nyata antara malam dan siang hari. Pada lapisan udara yang lebih tinggi tersebut, pengaruh angin terjadi lebih besar. Udara lembab dan udara kering dapat tercampur lebih cepat (Benjamin, 1994).                                              Kelembaban udara disuatu tempat berbeda-beda, tergantung pada tempatnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya: Jumlah radiasi yang dipancatkan matahari yang diterima bumi, pengaruh daratan atau lautan, pengaruh ketinggian (altitude) dan pengaruh angin (Handoko, 1994).             
Kelembaban udara yang lebih tinggi pada udara dekat permukaan pada siang hari disebabkan karena penambahan uap air hasil evapotranspirasi dari permukaan. Proses ini berlangsung karena permukaan tanah menyerap radiasi matahari selama siang hari tersebut. Pada malam hari, akan berlangsung proses kondensasi atau pengembunan yang memanfaatkan uap air yang berasal dari udara. Oleh sebab itu, kandungan uap air di udara dekat permukaan tersebut akan berkurang (Benjamin, 1994).
            Dalam kelembaban ini kita mengenal beberapa istilah yaitu kelembaban mutlak, kelembaban specifik dan kelembaban relatif. Kelembaban mutlak adalah massa uap air yang berada dalam satu satuan udara yang dinyatakkan dalam gram/ m, kelembaban specifik merupakan perbandingan massa uap air di udara dengan satuan massa udara yang dinyatakkan dalam gram/ kilogram, sedangkan kelembaban relatif merupakan perbandingan jumlah uap air di udara dengan jumlah maksimum uap air yang kandung panas dan temperatur tertentu yang dinyatakkan dalam persen ( % ) (Kartasapoetra, 1990).                                                    Beberapa prinsip yang umum digunakan dalam pengukuran kelembaban udara yaitu metode pertambahan panjang dan berat pada benda-benda higroskopis, serta metode termodinamika. Alat pengukur kelembaban udara secara umum disebut hygrometer sedangkan yang menggunakan metode termodinamika disebut psikrometer (Kartasapoetra, 1990).
                                                           














PROSEDUR PERCOBAAN
Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini :
1.         Termometer bola kering (BK)
2.         Termometer bola basah (BB)
3.         Tabel konversi kelembaban relatif (RH%)

Cara Kerja
a.         Termometer bola kering dan bola basah diletakkan dibawah tajuk tanaman dan di tempat lapangan terbuka di atas permukaan tanah.s
b.         Dicatat suhu bola kering (TBK) dan bola basah (TBB) dengan selang waktu 5 menit dengan 5 kali ulangan pada beberapa tipe lahan.
c.         Setelah didapatkan data suhu, lalu dicari selisih antara TBK dan TBB.
d.        Nilai RH dapat diketahui dengan melihat selisih TBK dan TBB berdasarkan tabel RH (lampiran).
Description: D:\WaLpAPeR\26032010666.jpgDescription: D:\WaLpAPeR\26032010667.jpg







Gambar 1. Higrograf                                          Gambar 2. psikrometer






HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. Nilai rata-rata kelembaban di bawah tajuk dan di atas tajuk tanaman bunga kertas (Bougenvill)
No
Lokasi
Ulangan (0C,%)
Ket
I
II
III
IV
V
TBK
TBB
RH
TBK
TBB
RH
TBK
TBB
RH
TBK
TBB
RH
TBK
TBB
RH
1.
Di bawah tajuk
29
26
78
30
27
79
30
26
71
30
26
71
29
26
78
cerah
2.
Di atas tajuk
30
27
79
31
27
73
31
28
79
31
28
79
31
27
73
cerah

Untuk mengetahui nilai RH kita perlu mencari selisih antara TBK dan TBB dengan menggunakan rumus :
RH = TBK  - TBB
            Setelah hasil selisih ditemukan kemudian kita melihat nilai RH pada tabel Konversi Kelembaban Relatif (RH) dengan cara melihat nilai perbandingan TBK dan TBB pada tabel dan nilai TBB pada tabel sehingga nilai RH dapat kita peroleh.
Contoh :
Pengukuran nilai di bawah tajuk tanaman pada ulangan pertama :
RH = TBK  - TBB
      = 29 – 26
      = 3 ( lihat pada tabel kelembaban nisbi bersamaan dengan nilai TBB = 26 )
      = 78%

Gambar 3. Grafik hubungan antara kelembaban udara terhadap ulangan
Gambar 4. Grafik hubungan nilai TBB dan TBK di bawah tajuk tanaman Bougenvill

Gambar 5. Grafik hubungan nilai TBB dan TBK di atas tajuk tanaman Bougenvill

Pembahasan
Dari hasil penelitian diatas dapat kita lihat bahwa suhu udara di atas tajuk tanaman lebih tinggi bila dibandingkan dengan suhu di bawah tajuk tanaman. Hal ini di karenakan suhu udara dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : radiasi matahari, angin, curah hujan dan vegetasi tanaman dan awan.
            Suhu yang terbaca pada termometer bola basah lebih rendah dari suhu yang dibaca oleh termometer bola kering, hal ini disebabkan karena sebagian panas pada bagian ujung sensor termometer ini dipakai dalam proses penguapan (evaporasi) air pada kain lembab yang membalutnya. Semakin tinggi penguapan maka semakin banyak energi panas yang dipakai, berarti akan semakin rendah suhu termometer bola basah. Suhu termometer bola basah akan sama dengan suhu termometer bola kering jika penguapan air pada ujung sensor termometer tersebut tidak terjadi. Kondisi ini berlangsung jika udara di sekitar jenuh akan uap air.
            Kondisi suhu termometer bola kering dan bola basah di bawah tajuk tanaman tidak mengalami perubahan yang besar dikarenakan suhu di bawah tajuk tanaman lebih konstan karena tidak dipengaruhi oleh sinar matahari, kelembabannya pun tinggi karena udara di bawah tajuk tanaman mengandung banyak uap air hasil penguapan dari tanaman itu sendiri dan dari tanah. Uap –uap air tersebut tetap berada di sekitar tanaman tidak dapat menguap ke udara karena terhalang oleh tajuk tanaman.
            Suhu termometer bola kering meningkat ketika pengukuran di atas tajuk tanaman, dikarenakan pengaruh dari radiasi matahari yang mulai memanaskan udara sehingga kelembaban udara tersebut pun menurun akibat uap-uap air yang terkandung di udara menguap ke atas.















KESIMPULAN
1.         Kelembaban udara adalah persentase kandungan uap air dalam udara. Jumlah uap air yang ada dalam atmosfer dapat dinyatakan dengan berbagai macam ukuran yaitu: kelembaban mutlak (absolute), kelembaban istimewa,  (spesifik) kelembaban relative (nisbi).
2.         Suhu udara di atas tajuk tanaman lebih tinggi bila dibandingkan dengan suhu di bawah tajuk tanaman. Hal ini di karenakan suhu udara dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : radiasi matahari, angin, curah hujan dan vegetasi tanaman dan awan.
3.         Suhu termometer bola kering meningkat ketika pengukuran di atas tajuk tanaman, dikarenakan pengaruh dari radiasi matahari yang mulai memanaskan udara sehingga kelembaban udara tersebut pun menurun akibat uap-uap air yang terkandung di udara menguap ke atas.















DAFTAR PUSTAKA
Handoko. 1994. Klimatologi Dasar, landasan pemahaman fisika atmosfer dan unsur-unsur iklim.  PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Hardjodinomo, Soekirno. 1975. Ilmu Iklim dan Pengairan. Binacipta, Bandung.
Kartaspoetra, Gunarsih Ance. 1990. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. PT.  Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Linsley  dan kawan-kawan. 1989. Hidrologi Untuk Insinyur. Erlangga. Jakarta.



1 komentar:

  1. terima kasih.... berkat info yg anda berikan saya jadi ingat kembali bagaimana cara mengukur RH sebagai salah satu parameter penelitian saya...

    BalasHapus